artikel

21 Apr 2017

Tetap Sehat dengan Diabetes Melitus

Diabetes atau yang lebih dikenal dengan kencing manis merupakan kegagalan pengolahan karbohidrat dalam tubuh yang disebabkan oleh kurangnya hormon insulin, sehingga karbohidrat tidak dapat dipergunakan oleh sel untuk diubah menjadi energi. Akibatnya, karbohidrat yang ada di dalam tubuh dalam bentuk gula akan tertumpuk di dalam darah.

Secara garis besar, diabetes melitus (DM) dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu DM tergantung insulin (DM tipe 1) dan DM tidak tergantung insulin (DM tipe 2). DM tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Sayangnya, banyak penyandang diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit diabetes karena memang tidak menimbulkan gejala yang khas pada awalnya.

Diabetes yang tidak segera ditangani akan menimbulkan komplikasi di berbagai organ seperti ginjal, jantung, mata, dan lainnya, sehingga gejala yang ditimbulkan seringkali merupakan gejala gangguan organ lain akibat komplikasi.

Banyak penyandang diabetes yang terdiagnosis setelah mengalami komplikasi. Padahal, bila didiagnosis secara dini, maka penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan komplikasi yang membahayakan dapat dihindari. Untuk itu, perlu dilakukan pemeriksaan penyaring atau skrining pada mereka yang memiliki risiko DM, yaitu mereka yang telah berusia lebih dari 45 tahun atau mereka yang berusia lebih muda tetapi mengalami kegemukan (IMT > 23 kg/m2) dan disertai fakto risiko lain, seperti:

  • Orang tua menyandang DM
  • Riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir > 4000 gram atau riwayat DM pada saat hamil
  • Kolestrol HDL < 35 mg/dl dan atau Trigliserida > 250 mg/dl
  • Penderita Polycystic Ovary Sindrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang berhubungan dengan resistensi insulin (gangguan fungsi insulin)
  • Riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
  • Riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah

Mereka yang memiliki risiko DM dianjurkan melakukan pemeriksaan glukosa darah secara berkala, setahun sekali atau sesuai anjuran dokter serta melakukan pemeriksaan HbA1c untuk deteksi dini dan pemantauan diabetes. Walaupun tidak memiliki gejala khas pada awalnya, anda perlu mewaspadai gejala berikut:

  • Sering buang air kecil terutama pada malam hari
  • Sering atau cepat merasa haus
  • Lapar yang berlebihan
  • Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
  • Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf di telapak tangan dan kaki
  • Cepat lelah dan lemah
  • Mengalami gangguan penglihatan secara tiba-tiba
  • Apabila terjadi luka atau tergores lambat penyembuhannya
  • Mudah terkena infeksi, terutama kulit

Tips Mengendalikan Diabetes Melitus

Pentingnya Dukungan Keluarga

Agar dapat mengendalikan diabetes dengan baik, tidak cukup hanya mengandalkan dokter atau tenaga kesehatan, perlu peran aktif diabetisi dan keluarganya. Bila anda atau ada anggota keluarga didiagnosis diabetes melitus, jangan panik, segera konsultasikan ke dokter dan tanyakan berbagai informasi seperti bagaimana melakukan pemantauan mandiri, penyebab gula darah meningkat, perencanaan pola makan, tanda-tanda komplikasi, dan sebagainya.

Pengaturan Makan

Setiap penyandang diabetes sebaiknya mendapat Terapi Gizi Medis, yaitu pengaturan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan guna mencapai target pengobatan. Yang perlu ditekankan adalah keteraturan jadwal makan, jenis, dan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Latihan Jasmani

Penyandang diabetes perlu melakukan latihan jasmani secara teratur 3-4 kali seminggu selama kurang lebih 30 menit yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Intensitas latihan sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani masing-masing individu.

Penggunaan Obat

Obat-obatan untuk menurunkan kadar gula darah dapat digunakan bila target kadar gula darah belum tercapai dengan didampingi pengaturan pola makan, latihan jasmani, dan tentu saja dibawah pengawasan dokter.