artikel

15 May 2017

Penyakit Gaya Hidup "Manja"

Masalah obesitas telah menjadi gangguan bagi masyarakat kota besar yang terbiasa mengonsumsi makanan kaya lemak dan karbohidrat, juga kurang bergerak dan stres. Bahkan, di kota besar seperti Jakarta, separuh dari jumlah penduduknya adalah gemuk (Kompas, 11 Agustus 2015).

Obesitas sentral disebut juga dengan obesitas viseral, dapat mengakibatkan risiko kesehatan pada kemudian hari sebagai faktor risiko sindrom metabolik. Masalahnya, sindrom metabolik pada umumnya tidak memberikan gejala mencurigakan dan tidak menimbulkan masalah kesehatan secara langsung, sehingga sering terabaikan. Karena itu dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksinya.

Penyebabnya diduga karena gaya hidup yang berubah menjadi hedonis, lebih banyak duduk-duduk, pola makan buruk dengan konsumsi junk food yang tinggi kalori (lemak dan karbohidrat) dan kurang gerak. Hal ini banyak terjadi pada usia dewasa pertengahan (sekitar 35-40 tahun) pada tiga dari lima orang yang tergolong kegemukan dengan purit buncit. Risiko meningkat seiring dengan konsumsi makanan cepat saji, soft drink, makanan berpengawet, dan digoreng dengan minyak berlebih.

Dari gejala ke komplikasi yang berbahaya

Sekarang ini memiliki ukuran badan gemuk berlebihan (obesitas) tidak lagi dianggap sebagai tanda kemakmuran. Selain tidak enak dipandang, terutama para wanita, penelitian mengungkapkan bahwa obesitas yang menjadi epidemi itu merupakan awal terjadinya sindrom metabolik dengan komplikasi yang akan menjadi gudang penyakit berbahaya. Obesitas saja sudah membuat tubuh menjadi cepat lelah, pernapasan terganggu, bahkan nafas dapat terhenti ketika tidur.

Komplikasi utama sindrom metabolik adalah penyakit jantung koroner, stroke dan diabetes melitus tipe 2. Tekanan darah dan kadar lemak darah yang tinggi (dyslipidemia) pada mereka yang mengalami sindrom metabolik dapat menyebabkan peningkatan risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Sedangkan resistensi insulin atau penurunan kemampuan tubuh memproses gula, terjadi beberapa tahun sebelum penderita dinyatakan positif diabetes tipe 2. Penyakit lain yang berhubungan dengan sindrom metabolik adalah perlemakan hati.

Sindrom metabolik bagaikan alert systems, jika perut mulai membuncit akibat lemak berlebih yang menumpuk, disertai dengan tekanan darah yang tinggi, sebaiknya waspada akan terjadinya sindrom metabolik. Karena itu, agar sindrom metabolik tidak berkembang menjadi penyakit berbahaya, perlu dilakukan usaha memerangi obesitas dengan: (1) menurunkan berat badan, (2) mendeteksi kelainan (lingkar perut, tekanan darah dan data pemeriksaan laboratorium), (3) intervensi terhadap kelainan yang ditemukan (diet, olahraga, dan obat-obatan) dan (4) evaluasi serta pemantauan secara berkala (pemeriksaan fisik dan laboratorium).