artikel

19 May 2017

Bagaimana Mengukur Obesitas?

Untuk mengukur obesitas yang dapat dilakukan sendiri adalah menghitung IMT (Indeks Massa Tubuh) dengan rumus yang diberikan PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) dalam 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang Perubahan (1994), yaitu: IMT adalah berat badan dalam kilogram (kg) dibagi dengan tinggi badan dalam meter (m) pangkat dua.

IMT = Berat Badan (kg)/ Tinggi Badan pangkat dua (m2). Kisaran normal IMT Asia-Pasifik (The Asia Pacific Perspective, Redefining Obesity and HS Treatment 2000) adalah 18,5-22,9 kg/m2. Lebih dari ukuran tersebut masuk kelompok berisiko. IMT 23-24,8 kg/m2 masuk kelompok kelebihan berat badan (overweight). Bila IMT di atas 25 kg/m2 disebut sebagai obesitas.

Kategori menurut IMT versi Klinik Konsultasi Gizi dan Klub Diet GMSK IPB, Bogor, adalah sebagai berikut:

- Kurang dari 17,0 = Kurus tingkat berat.

- 17,0 - 18,5 = Kurus tingkat ringan.

- 18,5 - 25,0 = Normal.

- 25,0 - 27 = Gemuk tingkat ringan.

- Lebih dari 27,0 = Gemuk tingkat berat (obesitas).

Masalahnya, IMT tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh. Untuk menilai timbunan lemak perut yang berbahaya, digunakan rasio lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau yang lebih praktis adalah dengan mengukur lingkar perut (LP). Cara mengukur lingkar perut adalah menggunakan pita meteran yang dilingkarkan mengelilingi perut dua jari di bawah pusar. Seorang pria (Indonesia) yang berlingkar perut lebih dari 90 cm (orang barat 102 cm), dan wanita 80 cm (orang barat 88 cm) disebut sebagai obesitas sentral, apalagi bila IMT-nya 25 atau lebih.

Selain itu, pemeriksaan laboratorium untuk pasien obesitas adalah: (1) Glukosa puasa untuk mendeteksi risiko diabetes melitus (DM) atau gangguan toleransi glukosa, (2) Kolesterol total, trigliserida, kolesterol HDL, Kolesterol LDL Direk dan Apo B untuk mengetahui adanya gangguan metabolisme lemak, (3) Tekanan darah dan (4) Asam urat.