artikel

15 Nov 2017

Mengapa Kita Bisa Mengidap Kolesterol Tinggi?

Sebenarnya, kebutuhan kolesterol bisa dipenuhi oleh produksi dalam tubuh sendiri, karena sekitar 80% kolesterol yang terdapat di dalam tubuh diproduksi oleh hati dan 20% lagi berasal dari konsumsi makanan yang berasal dari hewan (jenis lemak jenuh seperti: daging, jeroan, seafood dan telur) dan nabati (jenis lemak tidak jenuh, seperti kacang-kacangan). Karena itulah, kadar kolesterol bisa meningkat tergantung dari jenis makanan yang dikonsumsi. Namun, penumpukkan kolesterol merupakan proses yang sangat kompleks, berlangsung dalam waktu lama, dan terjadi secara diam-diam.

Penumpukan kolesterol tidak menimbulkan gejala yang mencurigakan. Hal tersebut dapat terjadi sebagai akibat gaya hidup yang tidak sehat. Sesungguhnya gen dan pilihan gaya hidup akan memengaruhi kadar dan jenis kolesterol.

Hati mungkin memproduksi terlalu banyak kolesterol LDL atau barangkali tidak terlalu "bersih" saat membersihkan darah, atau hati tidak memproduksi cukup kolesterol HDL. Selain itu, merokok, makan makanan yang berlemak, serta kurang gerak dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan kadar HDL juga memengaruhi kadar lemak lainnya.

Aterosklerosis merupakan penumpukan kolesterol yang berlebihan di dinding arteri yang berlangsung lama secara diam-diam, dan tidak menimbulkan gejala berupa rasa sakit yang mencurigakan. Pembentukan plaque itu berlangsung sejak usia dini, akan terus menerus berlangsung dan membesar, baik karena faktor gaya hidup yang tidak sehat maupun adanya faktor risiko lain. Secara kronologis, perkembangan dari plak aterosklerosis adalah sebagai berikut:

  1. Usia kurang dari 20 tahun, plak mulai menempel di lapisan dinding pembuluh darah (pada tahap ini belum ada keluhan),
  2. Usia 20-30 tahun, adanya bercak perlemakan di dinding pembuluh darah (juga belum ada keluhan),
  3. Usia 30-40 tahun, tonjolan plak mulai tampak (umumnya juga belum ada keluhan). Bila plak bertambah besar dan penyumbatan telah mencapai 70%, maka sudah mulai ada gejala-gejala dan pasien dapat mengalami serangan jantung atau stroke iskemik.

Kapan disebut bahaya?

Bahaya kolesterol tinggi dapat dipahami sebagai penurunan produksi kolesterol baik (HDL) sebagai akibat dari gangguan di dalam hati atau kelebihan pasokan kolesterol jahat (LDL) dari luar (makanan). Di samping itu, seseorang dengan kadar trigliserida tinggi perlu waspada karena kondisi tersebut dapat mendorong terbentuknya small dense LDL lebih banyak.

Untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai risiko terkena serangan jantung atau stroke, dapat dilacak melalui kadar kolesterol dalam darah (mg/dL) seperti:

- Kolesterol total

Kadar normal di bawah 200 mg/dl, ambang batas 200-240 mg/dl, tidak normal di atas 240 mg/dl.

- Kolesterol LDL

Kadar normal di bawah 130 mg/dl, ambang batas 130-160 mg/dl, tidak normal di atas 160 mg/dl.

- Kolesterol HDL

Kadar normal di atas 45 mg/dl, ambang batas 45-45 mg/dl, tidak normal di bawah 35 mg/dl.

-Trigliserida

Normal di bawah 200 mg/dl, Ambang batas 200-400 mg/dl, tidak normal di atas 400 mg/dl.

Kadar kolesterol (mg/dl) tersebut diperuntukkan bagi mereka yang tidak terdiagnosis menderita penyakit jantung kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), sedangkan untuk pengidap penyakit kardiovaskular dokter akan menggunakan pedoman lain.

Mulailah lakukan tes tersebut pada usia 20-an tahun, kalau hasilnya normal diulang 5 tahun sekali. Dengan kadar kolesterol normal (di bawah 190), risiko terkena penyakit jantung di usia 70 tahun hanya 10%. Jika kadar kolesterol berlebih (di atas 300), risiko penyakit jantung dan pembuluh darah pada usia 40 tahun terjadi 40%.